Malam ini, kuniati menulis puisi tentang hujan yang seringkali membekukan kenangan bahagia Hujan yang kecil-kecil namun ramai Hujan dengan alunan kidung paling merdu Denganmu Dan orang lain yang juga terpaksa berteduh di sana Mendung bergelayut di padang awan yang kian pekat Jalan terburu-buru seperti hendak buang air menuju kamar mandi Deru kuda besi tak mampu mendahuluinya Perlahan namun pasti, cucuran airnya jatuh membasahi bumi Menghidupi tanaman Menghadirkan bau tanah yang harum Dan menyuruh manusia bergegas meneduh "Kita berteduh di sini tak apa?" tanyamu khawatir karna hari sudah mulai gelap. "Iyaa, telat beberapa menit tak masalah. Biar kukabari orang rumah." jawabku mencoba meredakan. Kulihat jaket abumu basah karna air menghujammu terlebih dahulu "Sampaikan maafku ke Bapak, karna telat mengantarmu pulang." katamu merasa bersalah. "Ternyata kamu..." tak kulanjutkan, sebab senyum di bibirku tak mau pergi kemana-mana....