Jika menujumu adalah perjalanan menemukan tanpa arah, adakah cara untuk memenangkan logika dibanding rasa? Selepas usai membawaku pada krisis percaya berkepanjangan, kupikir sungguh ialah dataran yang berisi segala keinginan. Namun, penunjuk arahku hilang di pertigaan jalan. Perkenalan denganmu menjadi satu pijakan menuju gulungan ombak. Hangat senyum itu terjangan badai di dalam dada yang mengobrak-abrik segalanya. Kabar tanpa tanya menjadi candu paling memabukkan yang membebani orang-orang baru. Aku bahagia melihatmu berbagi tawa dengannya. Purna sudah rindu yang menumpuk dan ternyata pupus tanpa pernah sampai mengetuk. Mereka kubakar habis bersama kalimat "saya terima nikahnya ...". Tentu bukan namaku di kelanjutannya. Sungguh, aku tidak tahu-menahu kapan seseorang akan membuatku yakin kembali, bahwa cinta tanpa orang ketiga itu ada. Setidaknya saat ini kulangitkan doa agar kujuga bisa dipertemukan dengan sungguh yang memutuskan berlabuh. Tambun Uta...
Sejak awal, kunamai kamu pelengkap hidup. Dibersamaimu hariku lebih berdegup. Aku salah, adakalanya hidup tak melulu indah. Ada paket penuh kejutan yang membuat kaget. Sudah, ternyata kata-kata memang tak dapat digenggam. Obralan senda guraumu memuai menuju temaram. Ikhlas, pada perpisahan kali kesekian lebih pas dibanding tanpa kejelasan. Tambun Utara, 08 November 2021 21.14