Langsung ke konten utama

Postingan

Rindu Purna Tugas

Jika menujumu adalah perjalanan menemukan tanpa arah, adakah cara untuk memenangkan logika dibanding rasa?   Selepas usai membawaku pada krisis percaya berkepanjangan, kupikir sungguh ialah dataran yang berisi segala keinginan. Namun, penunjuk arahku hilang di pertigaan jalan.   Perkenalan denganmu menjadi satu pijakan menuju gulungan ombak. Hangat senyum itu terjangan badai di dalam dada yang mengobrak-abrik segalanya. Kabar tanpa tanya menjadi candu paling memabukkan yang membebani orang-orang baru.   Aku bahagia melihatmu berbagi tawa dengannya. Purna sudah rindu yang menumpuk dan ternyata pupus tanpa pernah sampai mengetuk. Mereka kubakar habis bersama kalimat "saya terima nikahnya ...". Tentu bukan namaku di kelanjutannya.   Sungguh, aku tidak tahu-menahu kapan seseorang akan membuatku yakin kembali, bahwa cinta tanpa orang ketiga itu ada. Setidaknya saat ini kulangitkan doa agar kujuga bisa dipertemukan dengan sungguh yang memutuskan berlabuh.   Tambun Uta...
Postingan terbaru

Usai Tanpa Mulai

Sejak awal, kunamai kamu pelengkap hidup. Dibersamaimu hariku lebih berdegup.   Aku salah, adakalanya hidup tak melulu indah. Ada paket penuh kejutan yang membuat kaget.   Sudah, ternyata kata-kata memang tak dapat digenggam. Obralan senda guraumu memuai menuju temaram.   Ikhlas, pada perpisahan kali kesekian lebih pas dibanding tanpa kejelasan.     Tambun Utara, 08 November 2021 21.14

Untuk Diriku Sendiri

  Diriku sayang, Kamu sudah melakukan yang terbaik Sebisa-bisanya dengan segala upaya Tapi semuanya tentu tak bisa sejalan Sesuai keinginanmu   Diriku sayang, Kamu berharga bahkan sebelum terlahir Ke dunia yang tak pernah adil ini Akan terus berharga sampai kapanpun Dan akan tetap begitu   Diriku sayang, Maaf ya, karena sering kali menyalahkan Atas segala hal yang kurasa keliru Bertindak keras dengan tidak membiarkan Kebahagiaan menuntunmu menemu jalan keluar   Diriku sayang, Kamu boleh minta bantuan kalau merasa penuh Sesekali tolaklah kebiasaan buruk yang kian memperumit Hidup dan keberlangsunganmu Terlebih merasa tidak baik-baik saja bukanlah aib   Diriku sayang, Terima kasih ya, karena memilih tetap bertahan Kekuat-kuatnya dan masih mau melangkah sampai sejauh ini Aku bangga sama kamu.   Tambun Utara,  17 Mei 2021 17.34

Ketika

  Aku ingin kembali ke masa kecilku Ketika aku tidak berpikir terlalu keras Ketika aku tidak merasa khawatir akan banyak hal Ketika aku tidak merasa kesepian Ketika aku tidak takut dengan pengkhianatan Ketika aku tidak cemas akan hari esok Ketika aku tidak mengeluh karena lelah Ketika aku bisa tersenyum dan tertawa kapan saja Ketika aku senang memandangi diri meski bedak tidak rata Ketika aku berjalan riang setelah sekolah usai Ketika aku mengisi waktu istirahat dengan bermain lompat tali Ketika aku begitu mencintai matahari terik Ketika aku mencintai diriku sendiri Terlebih Ketika aku bahagia.   Tambun Utara, 06 Mei 2021 19.59

Segala Sesuatu yang Tak Ada

  Di siang yang terik ini Panas menimbulkan sakit kepala Bulir-bulir keringat sebesar jagung meluncur   Dibersamai suara deru pesawat yang berseliweran lewat Menambah ketidaknyamanan yang kian subur Seakan tak mau ditarik mundur kembali pada persemayaman   Dikejar deadline kerjaan yang tak kenal kata akhir Menanggung tunda-tunda orang lain Pekerjaan yang harusnya selesai disulap panjang umur   Dipecundangi kebijakan yang memihak pemilik modal Atau orang-orang yang sejak lahir sudah bergelimang kemewahan Taring dicopot supaya tak bisa berteriak lantang diganti hidung merah bola pingpong   Diiringi lagu Keseimbangan milik Wakijo Lan Sedulur yang sopan di telinga Belajar dari proses kehidupan yang dilewati alam Saling berbagi dengan menggadai keberadaan untuk keberlangsungan.   Tambun Utara, 07 Mei 2021 14.56

Puisi Berimbuhan

  Ketidakmungkinan yang acapkali seliweran Merangsek ke dalam serat-serat tiap bagian dalam nadiku Keras kepala berharap semua kan berjalan sesuai rencana Padahal daya dan upaya belum tentu seiya sekata   Kegamangan hidup yang kadang sulit menemu jalan pulang Bersitahan dengan rasa lainnya yang entah Membuat wajah kian pucat tanpa senyum Kehilangan hingar-bingar hidup yang konon hanya sekali   Kegelisahan menunggu kepastian Membandingkan hidup dengan teman sepermainan Merasa diri paling lambat menuju kehidupan layaknya orang-orang Terus berproses namun tak berpindah kemana-mana   Kerinduan dipaksa tumbuh di kala petang Insomnia memabukkan menggiring pada pola tidur tak beraturan Lingkar hitam makin pekat menggeliat Menatap foto pada figura yang sudah kecoklatan.     Tambun Utara, 05 Mei 2021 21.15

Membunuh Diri

    Malam kemarin sungguh perih sekali Percikan air pada keran berulir menghujam kulitku Yang kukira sudah menjelma kertas tipis yang siap hancur.   Kebisingan berita-berita di televisi tak seriuh isi kepala anak-anak usia sekolah Yang terlahir dari keluarga kurang mampu Pada tiap inci sakit yang menjalar ke pelipis sebagai muaranya.   Pedih perih meronta dan semakin tambah deras seperti air yang menerobos bolongan keran Air mataku tak bisa dibendung tumpah ruah melewati pipi yang memerah karena marah Cobaan begitu bernanah dan mengeluarkan kucuran darah.   Hidup memang tak pandang buluh Siapa yang tak berkemampuan akan dianggap sepah Tapi bisakah kita sebagai sesama tidak berkutat pada keuntungan diri sendiri semata?   Dapatkah kita membunuh aku dan menumbuhkan Ia pada kedalaman sanubari tuk saling menghidupi?   Tambun Utara, 05 Agustus 2020 15.29